SEREM!
Kata itulah yang ada di benakku ketika melewati Gerbang Belakang Kampus UIN Malang ini. Ya jalan itu, jalan yang sore harinya ramai, tempat nongkrong para aktifis kampus membicarakan proyek mereka sembari menggoda gadis-gadis kampus yang lewat disitu. Semua orang yang lewat situ terkadang sebel ketika moment wisuda seperti sabtu kemaren, jalan yang luas menjadi begitu sempit dan sesak dipenuhi asap kenalpot berwarna hitam. Acapkali di jalan itu juga sering aku saksikan, sepasang kekasih berpelukan mesrah di atas motor. Jalan ini tentu indah bagi mereka. Tapi tidak untukku!
Kejadian malam itu benar-benar membuatku kehabisan air mata, tidurku tidak nyenyak, pagi harinya harus kusesali lagi, kenapa nasibku sesial itu. Ah menyebalkan!
“Sudahlah Mblo, lupakan, anggap kejadian itu tak pernah menimpa dirimu.” Ucapan Monyet sangat ringan, seperti kejadian itu hanya ada di film.
“Ini nyata Nyet.!”
“Bisa-bisanya kamu bilang, aku harus melupakan kejadian malam itu. Kamu kan nggak tau bagaimana susahnya aku nabung uang untuk beli barang itu” geramku
Aku diam, mengalihkan pandangan ke arah lain, muak campur sesak melihat jalan raya yang kini ada di hadapanku itu.
“Memangnya betapa pentin barang itu bagimu Mblo?” sekonyong-konyong suara Monyet mencairkan suasana yang sesaat hening. Suara monyet tak lagi terdengar olehku, karena tiba-tiba ingatanku berada pada kejadian malam itu. Malam itu memang sedang gerimis, saking asyiknya tak terasa aku bertamu di Rumah Kecantikan itu hingga larut malam. Setelah membungkusnya dengan kresek warna hitam.
“Makasih ya Mbak Jomblo, hati-hati di jalan, kalau bisa jangan lewat belakang UIN sebab di situ sering terjadi penjambretan, korban-korban nya kebanyakan perempuan, Mbak Kan Jomblo, harus ekstra hati-hati kalau kemana-mana”
“Ah sampean ini nakut-nakutin aja Jeng,” balasku dengan sunging senyum.
Mata ku meliriknya dengan perasaan penasaran campur takut, “Jeng gak bercanda kan, ohya kok tau kalau saya Jomblo?”
Tanyaku meyakinkan, sambil senyum-senyum kaku karena dikatain Jomblo.
“Sudah-sudah lupakan, aku cuman bercanda kok, cuman iseng aja. Cuman nebak juga, kalau Mbak Gak Jomblo kenapa kesini gak minta anterin Cowoknya” Jeng Kupu menutup tawanya yang serak dengan tangan kirinya.
“Sudahlah. Tidak baik buruk sangka sama orang lain.” Nasehat wanita yang berhidung mancung itu sembari mengantarku ke halaman rumah kecantikannya.
Sebelum menacapkan kunci di motorku, sekilas aku sempat melihat raut khawatir di wajah Jeng Kupu sebelum pintu rumahnya membawanya hilang dari pandanganku.
Dengan kecepatan 20 Km motor Bebek yang ku kendarai tiba-tiba menjadi berat, aku menengok ke belakang ternyata ada tangan yang menarik motorku dari belakang. Tepat di belakang Gerbang Kampus UIN.
“Berhenti.!”
“Woy jangan ngebut.” Belum sempat kujawab ancaman Manusia bertopeng hitam itu, seketika di depan motorku ada mobil Jeep Penjahat yang gagah dan besar, Jeep itu berasal dari Utara, Pintu Jeep terbuka oleh ujung tembak yang panjang. Sementara aku hanya bisa ketakutan dan gemetaran.
“Serahkan Tas Nya, atau nyawamu melayang malam ini juga.”
“Apa tidak ada dispensasi Om? Saya kan sendirian? Sedangkan Om berlima, beginikah cara perampok menunjukkan kejantanan nya? Kenapa Om gak sendirian aja? Kalau sendirian pasti kukasihkan tas ku beserta isinya.” Jawabku polos
“Kamu ini mau dirampok malah nawar, sudah, serahkan tasmu, segera.!”
Om Om yang betopeng itu mempunyai sorot mata yang tajam, aku benar-benar takut, tak ada dialog lagi, aku hanya memegang erat tas ku yang berwarna merah muda pemberian Ayah ku itu. Aku kira tas ku gak jadi diambil, karena Om yang ada di hadapanku sedikit agu-ragu, mungkin dia punya anak perempuan seumuranku, jadinya gak tega.
Tak lama kemudian, ternyata Dugaanku salah, ternyata Om yang narik motorku dari belakang tadi dengan gesit merampas tasku, lalu Om itu kabur.
“Tolong-Tolong.” Tak ada satu pohonpun yang peduli dengan teriakanku, sementara di jalan itu hanya ada aku dan motorku yang Pantatnya sudah ternodai oleh Tukang jambret,
“Dasar jambret beraninya main dari belakang.”
Mereka kabur membawa tasku yang isinya Kresek Hitam dari Rumah kecantikan Jeng Kupu tadi. Malam ini sungguh Tuhan tidak adil, kenapa ia biarkan Jambret-jambret itu merampokku, entah mengapa hati ini gelisah memikirkan ketidak pedulian tuhan kepadaku. Dalam hitungan menit telah berlabuh, bak layar proyektor yang memutar kejadian beberapa minggu lalu.
“Nyet, mana makanan nya? Kamu belum pesan ya?”
“Lha kamu, sejak tadi melamun aja Mblo, “ jawab monyet ketus
Monyet menjelaskan kepadaku kalau tadi sudah ditanya sama yang punya rumah makan, mau pesan makanan apa. “Mbak, mau makan apa? Minum apa? sejak tadi kok diem aja, mas yang ada di samping mbak juga mantengin hp aja, kalian ini lagi ngambekan ya?!”
“Mbak, jawab dong, apa mbak juga ngambek sama saya? Salah saya apa mbak?”!
Simonyet yang sejak tadi asyik main game tiba-tiba nyletuk “Sukurin, emang enak dicuekin, aku sejak tadi juga dicuekin Mas.”
“Kalian ini sama aja, kalau gak mau beli makan jangan nongkrong di sini, dasar mahasiswa jaman Now, gak punya uang, seenaknya sendiri nongkrong di rumah makan saya.” Bentak Pak Gajah
Monyet menjelaskan itu kepadaku dengan wajah kesal, mungkin dia lelah. “yaudah kita pesan nasi tempe aja ya nyet, minum air es aja.”
“Oke,! Pesen nasi tempe aja pakek melamun segala, huh dasar Jomblo.”
“Iya, iya maaf,” mulutku seakan tercekat
Mana mungkin Monyet tau kalau aku tadi inget kejadian malam itu, ya, namanya juga Monyet, yang dia tau hanya Pisang. Makanan sudah datang, kami berdua menghabiskan tempe dan nasi sepiring itu bersama-sama. Tak peduli kata orang, kami memang konyol, beteman serupa sama-sama gila, tak ada kata gengsi jika memang sedang kere.
“Sumpah lucu banget Nyet kejadian malam itu, untungnya dompet dan HP ku gak ada di dalam tas, sengaja kumasukkan ke dalam kresek Indomart yang kudapat ketika membeli Jajan.” Kulanjutkan cerita itu agar Monyet tau, kenapa aku menyesali tas ku yang berisi bedak dan lipstik itu hilang dibawa jambret.
“Kalau gitu kamu masih beruntung Mblo, gak semua yang kamu bawa malam itu dibawa kabur jambret.” Monyet mencoba menghiburku
“Iya Sih Nyet, mungkin Allah tak menginginkan aku menjadi cantik, lagipula kalau aku pakai bedak yang ku beli di Rumah Kecantikan itu, rasanya mustahil aku mau berteman sama kamu. haha”
“Alah, dasar kePD an, lagipula meskipun kamu pakai bedak dan lisptik, gak berubah jadi cantik.” Monyet lagi-lagi ngomel tanpa filter.
“Begini loh nyet, aku menyesal karena telah menuduh Tuhan tidak sayang kepadaku malam itu, kenapa Tuhan hanya diem aja ketika mengetahui aku dijambret. Malam itu aku sempat bilang, Tuhan Macam apa yang rela hambanya hidup sengsara” hmmmmmm
“Masya Allah, kelewatan kamu Mblo, dasar manusia gak pernah bersyukur, Tuhan itu maha Asyik, selain itu juga maha Misterius, apa yang kamu kira buruk untukmu belum tentu buruk bagi Tuhan. Katanya kamu ini lulusan pesantren, bab tasawuf kayak gini sangat bodoh ahahaha”
Aku tertegun mendengar ucapan Monyet yang mulutnya bau asap rokok itu. Sesal merambati dada ini, aku telah keliru menilai tuhan selama ini. Apalagi setelah mendengar cerita Monyet sebelum ia pamit ke Toilet, Monyet bilang setelah ramai warga kampus membincangkan tragedi penjambretan yang menimpaku malam ini, tiga hari selepas itu di koran ada berita wanita yang terserang penyakit gatal gara-gara salah pakai bedak.
“Maafkan aku Tuhan, maaf telah salah menilaimu. Maafkan aku juga Nyet, ternyata kamu jauh lebih mengenal Tuhan“ lirihku seraya memandang punggung Monyet hingga menghilang di antara pengunjung rumah makan yang berdatangan.

# Kisah ini terinspirasi dari (QS. Al-Baqarah : 216)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ahmad Ali Adhim
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menulis opini, esai puisi dan cerpen. Aktif di komunitas sastra Pesantren Kreatif Baitul Kilmah