“Putriiiii….” Kupanggil namanya dari kejauhan, sebisa mungkin tanpa typo, karena sepertinya editor Pewarta Nusantara terlalu malas untuk memperbaikinya.

Putri pun menoleh, berusaha menebak teriakan penuh kerinduan yang ia dengar. “Aku ikut kamu” teriakku yang ingin menumpang di sampannya menuju rumah pak Kiai Jarkoni.

Dia menepi dan langsung bertanya “Kenapa tidak pakai sampan mu sendiri pret?”

“Sampanku mau bapak pakai hari ini” jawabku, meskipun sebenarnya tidak juga.

“Naiklah.. kamu yang kayuh!”

Putri selalu bermain teka-teki, kode-kode nya harus saya baca dengan sangat jeli. Menyuruhku mengayuh adalah strategi pengkambing hitaman. Jika putri yang mengayuh, kemudian ia pelankan laju sampan untuk berlama-lama diatas sampan berduaan denganku, sebagai wanita jelas dia tidak mau terkesan mengejar cintaku. Sebaliknya, dia ingin mempertanyakan kualitas kerinduanku dengan mengukur seberapa pelan laju sampan yang aku kayuh.

Begitu strategic, dan setiap langkah preventifnya nyaris tanpa celah. Begitulah Putri, selalu berusaha menjadi sosok perfeksionis didepanku. Bagaimana mungkin aku ragu untuk mencurahkan segenap cinta kasihku pada wanita luar biasa anak Kasturi ini.

“Kenapa kamu lebih suka memakai sampan?, kamu kan bisa kerumah pak Kiai pakai motor put?” Pertanyaan pembukaku langsung tajam menukik dan menyerang nalar filosofisnya. Tentu saja aku tidak mau kualitas kebersamaan ini dipenuhi dengan obrolan murahan ala Dilan si bocah era krisis moneter yang masih sempat meng-custom motor CB jap style.

“Suka-suka ku lah pret..”

mungkin dia tidak mau obrolan ini cepat selesai dan dia khawatir kalau aku kehabisan tema untuk diperbincangkan, jadi dia masih ingin membahas tema ini karena kepeduliannya pada kemampuan komunikasiku “kamu salah meragukan kemampuan komunikasiku, curahkan saja kerinduanmu jangan ragu” Sambil mengayuh sampan Kasturi, aku membatin menafsirkan jawaban Putri yang diplomatis.

“Kalau kamu pakai motor kan bisa dengan jalur memutar mengitari danau lewat depan rumahku, dan kalau aku butuh tumpangan dengan motor kebersamaan kita bisa lebih rapat.. heheh..” kataku dengan intonasi meledek, berharap selera humor Putri satu level denganku.

“Kamu pikir aku ojek” Sambil memandang ke kearah timur, putri menjawab dengan nada sok jual mahal ala artis FTV di awal cerita.

Ya enggak lah Put.. kamu Putri binti Kasturi, wanita yang selalu punya tempat spesial di hatiku, mana mungkin aku anggap sebagai tukang ojek?” Jawabku dalam hati, membenarkan persepsi putri yang membela diri dengan prespektif feminis garis keras.

“Hahaha.. tapi kalau kamu tukang ojek aku bakal jadi pelanggan tetap, dan dengan tarif di atas rata-rata.” Aku mencoba meninggalkan tema dan berganti mengikuti alur pembahasan yang putri tawarkan, dan sekaligus pernyataanku memuat kode keras.

Putri kembali menjawab dengan tegas tanpa mau direndahkan. “Edann..!! Peci hitam kamu aja karatan, beli peci baru dulu baru bertingkah sok kaya.”

Aku diam sebentar karena sepertinya putri masih bingung untuk berkata-kata dalam situasi yang pastinya membuat Putri canggung dan mungkin baru pertama baginya. Sekaligus memberi kesempatan putri untuk memilih tema obrolan yang ia mau.

“Kalau aku pake motor pret, pertama jauh karena harus memutar jalan hampir 30KM, jalan ketempat pak Kiai kamu taulah betapa jeleknya itu, aku sayang motorku, dengan sampan bisa lebih cepat karena tinggal menyeberang tanpa harus memutar juga, dan aku suka suasana diatas danau.” Kata putri yang tiba-tiba kembali membuka obrolan.

Did you hear that.. hah…. dia menjawabku!!” Teriak ku dalam hati dengan ekspresi membentak ikan-ikan yang sedari tadi mengikuti sampan dan seolah menatap ku penuh ejekan.

“Masuk akal sih.. tapi kedalaman danau ini harusnya membuat orang yang menyayangimu khawatir Put, khususnya bapak Kasturi”. “dan aku” kubisikan kata terakhir pada ikan-ikan yang dilihat dari ekspresi menguping pembicaraan ala emak-emak dan bentuk tubuhnya, sepertinya mereka tidak lebih dari ikan kelas proletar rendahan.

“Jangan lebay pret..”

Jawabannya sangat memuaskan, Putri sangat ingin menunjukan bahwa dia adalah wanita perkasa. Sembari dia menjawab aku tatap dalam-dalam matanya yang disinari cahaya matahari pagi, bening dan jernih berkilau. Aku berkata dengan mataku “jangan berhenti menatap, Put!! kau akan sangat merindukanku kalau tidak menuntaskan tatapnmu” kata mataku pada mata Putri yang menyipit karena sinar matahari.

Seperti sepenggal kalimat yang diingat Dr Robert Oppenheimer dalam buku Bhagavad Gita saat merancang Bom maut untuk Hiroshima dan Nagasaki

“…Apabila sinar dari seribu Matahari serentak memecah ke langit, maka seperti itulah kemegahan Sang Perkasa Tunggal…. Aku adalah Kematian, Penghancur Alam Semesta”.

Cahaya yang terpantul dari mata Putri benar-benar memporak-porandakan semua hasratku pagi ini. Nyaris tak ada ruang untuk keinginan menyetir langkahku. Hanya bahagia yang aku rasakan saat ini.

“Ayo cepetan pret kita udah sampai!!”

“Yahhhh, gitu aja…???? ” Kata ikan ikan yang mengiringi kebersamaanku dan Putri di atas sampan. Kucari batu dan kulempar sekeras mungkin batu itu pada mereka “kalian kira kita mau mesum!!” Bentakku dalam hati.

Tidak terasa sampan ini sudah menepi, begitu cepat meski sudah ku pelankan. Tapi aku sangat menikmatinya. Kebersamaan yang suatu saat putri tanyakan dengan ekspresi pura-pura lupa “kita pernah berdua disampan kayaknya yah pah (panggilan untuk suaminya)?” Sebuah basa-basi malu putri akan tetap kutunggu dan kuceritakan betapa epicnya hari ini, hari dimana aku mengaji pada Kiai Jarkoni dengan penuh semangat karena melihat cahaya pagi yang begitu terang di mata Putri.